Yamaha Mio S

Sulitkah Kaum Milenial Ditembus Hoaks?

  Senin, 10 Desember 2018   Adi Ginanjar Maulana
Ilustrasi hoaks.(Pixabay)

Dalam teori generasi menurut Strauss dan Howe (1991), generasi milenial atau generasi Y adalah mereka yang lahir dari tahun 1977 sampai dengan tahun 1998. Generasi ini dikatakan Immordino-Yang et al (2012) sebagai generasi yang pertama kali terpapar teknologi. Salah satu hal yang sangat melekat dengan generasi milenial ialah penggunaan teknologi yang tinggi, khususnya internet. Teknologi komunikasi instan, yaitu media sosial, juga akrab dengan generasi milenial.

Jika tukang kayu identik dengan kayu, maka generasi milenial identik dengan teknologi. Mungkin seperti tangisan bagi bayi, teknologi bagi milenial adalah sebuah sarana untuk mencari, mendapatkan, dan mengungkapkan banyak hal. Memperkaya informasi, hingga mencurahkan isi hati. Hal tersebut disebabkan oleh keakraban milenial dengan gawai dan teknologi bahkan sejak mereka kecil.

Menurut survei Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2016, pengguna internet di Indonesia didominasi oleh generasi milenial. 80 persen atau sekitar 25 juta pengguna internet di Indonesia ialah mereka yang berusia 25-29 tahun.

Kemudian muncul pertanyaan. Apakah kedekatan milenial dengan teknologi menjadikan mereka mampu menggunakan berbagai fitur yang ada secara benar dan bijak? Bagaimana dengan kemampuan milenial dalam menghadapi hoaks? Apakah kepiawaian mereka menggunakan teknologi menjadikan mereka mampu membedakan mana informasi yang benar dan mana yang tidak?

“Generasi muda itu lebih cerdas. Mereka bisa membedakan mana hoaks dan mana tidak. Yang perlu dikhawatirkan adalah generasi-generasi yang lebih tua dari pada milenial. Anak muda sekarang potensi termakan hoaksnya agak rendah karena mereka lebih berpikir panjang,” begitu kata Deny Armandhanu, editor kumparan.com. Deny baru saja menyelesaikan penelitiannya di Amerika mengenai hoaks dan literasi media.

Namun, tak sedikit generasi milenial yang pernah memercayai informasi yang tidak benar. Tak jarang, hal tersebut diikuti dengan perilaku mereka setelah memercayai informasi-informasi tersebut.

“Pernah termakan info yang beredar kalau Ujian Nasional akan ditiadakan tahun itu. Aku percaya, sampai aku sebarin juga info itu ke teman-teman. Ternyata itu hoaks. Jadinya, semua teman-temanku ikut termakan hoaks,” tutur Firda, mahasiswi dari sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung.

AYO BACA : Aksi Tanpa Henti Berantas Hoaks

Lain halnya Alwan. Mahasiswa asal Medan ini beberapa kali memercayai hoaks mengenai dunia politik di Indonesia. “Dulu pernah percaya hoaks-hoaks tentang presiden Jokowi, sampai bangkitnya PKI,” tukasnya.

Ignatius Haryanto, pengamat media sekaligus pengajar di Universitas Multimedia Nusantara, memberi penjelasan mengenai hubungan generasi milenial dan hoaks yang beredar di sekitar mereka. Ignatius menilai, kedekatan milenial dengan teknologi bukanlah jaminan mereka menjadi sulit untuk ditembus hoaks.

“Bukan jaminan. Tapi minimal, kemampuan generasi milenial yang sudah terbiasa dengan gadget-nya, bisa dimanfaatkan untuk melakukan verifikasi lebih jauh. Bagaimanapun, kalau kita punya basic kebiasaan membaca yang baik, kita tak akan mudah terjebak hoaks. Generasi milenial bisa punya channel informasi yang banyak,” ujarnya.

Untuk melindungi diri dari “peluru-peluru” hoaks, Ignatius menekankan mengenai pentingnya verifikasi informasi bagi para milenial. Menurutnya, akses gawai yang milenial miliki seharusnya dimanfaatkan untuk mengecek informasi yang didapatkan. “Informasi yang pertama kali datang pada kita belum tentu kebenaran,” ujarnya.

Banyaknya hoaks-hoaks yang beredar maupun disinformasi dari media-media yang kredibel, ujar Ignatius, dapat diatasi dengan cara tersebut. Tak percaya pada satu sumber dan tak lelah untuk melakukan verifikasi adalah kuncinya.

“Karena kebenaran bisa jadi baru datang agak lama setelah kita dapat informasi yang pertama. Informasi apa yang mau dikonsumsi, siapa yang mau diercaya, itu semua pilihan milenial. Yang terpenting adalah bagaimana milenial jangan pernah lelah untuk melakukan verifikasi,” kata Ignasius.

Menurut Ignatius, mengonsumsi berita dan informasi dari media-media massa yang kredibel adalah salah satu upaya yang dapat dilakukan milenial untuk menghindari hoaks. Deny Armandhanu juga sependapat mengenai hal itu. Menurutnya, hoaks lebih cepat tersebar melalui media sosial, bukan melalui media konvensional.

AYO BACA : Terima Temuan Hoaks dan Ujaran Kebencian, Bawaslu Siapkan langkah Hukum

“Hoaks itu sedikit, yang nge-share yang banyak,” ujar Deny.

Deny menyampaikan kiat yang dapat dilakukan untuk menghindari sekaligus mengurangi tersebarnya hoaks.

“Saring before sharing. Kalau lihat berita, kalau judulnya menarik, jangan langsung di-share. Baca dulu beritanya tentang apa, siapa yang buat. Kalau dari media-media yang gak dikenal, itu jadi bisa dipertanyakan, jangan di-share. Kalau dapat informasi dari media yang kredibel, pikir lagi apa manfaatnya buat orang-orang kalau itu di-share,” menurut Deny.

Sementara itu, Ignatius menilai langkah yang paling tepat dilakukan untuk menangani permasalahan hoaks di Indonesia adalah dengan memasukkan pembelajaran soal literasi media ke dalam kurikulum sekolah. Tujuannya adalah agar anak muda dapat berlaku bijak dalam mengonsumsi media. Hal penting lain adalah agar anak-anak muda bisa memahami cara media bertindak dan alasan dari tindakan yang dilakukan media. Terakhir, bisa memilah informasi secara benar dan cerdas.

“Kita mau melangkah maju, atau tetap seperti ini? Kalau mau tetap seperti ini, kita akan selamanya jadi korban hoaks. Saya rasa, kita sudah bisa melihat betapa besar dampak-dampak yang ditimbulkan dari hoaks. Seharusnya usulan soal kurikulum ini bisa diterima,” ujarnya.

Fenomena hoaks adalah fenomena yang terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia. Sebagai generasi yang melek teknologi dengan akses terhadap informasi yang tinggi, sudah seharusnya generasi milenial menjadi generasi yang cerdas terhadap informasi. Tak hanya mengonsumsi secara mentah-mentah, generasi milenial juga harus mampu memaknai informasi secara benar.

Verifikasi adalah langkah terpenting yang harus dilakukan. Banyaknya saluran informasi yang dekat dengan generasi milenial, sepatutnya dimanfaatkan untuk penyaringan dan verifikasi informasi. Kerja sama dari seluruh pihak dibutuhkan untuk menangani permasalahan tentang hoaks. Masyarakat yang cerdas dalam memaknai informasi, dan pemerintah yang memfasilitasi pemahaman masyarakat mengenai literasi media. Melalui kebijakan-kebijakan, pemerintah juga perlu mengatur berbagai hal mengenai informasi dan media agar masalah hoaks tak semakin membesar.

Selma Kirana Haryadi
Mahasiswi Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitras Padjadjaran

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar