Yamaha Lexi

Lansia di Antara Milenial

  Selasa, 25 September 2018   Rizma Riyandi
Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional, Minggu (19/8/2018) di Taman Film. (Fathia/ayobandung)

Penetapan calon wakil presiden oleh kedua kandidat presiden membuat suasana politik Indonesia semakin ramai. Prabowo Subianto memilih Sandiaga Uno dari kalangan “muda”. Berbeda dengan Joko Widodo yang memilih wakil dari golongan “sepuh”, KH Ma’ruf Amin. Sungguh pilihan yang bertolakbelakang, dan membuat masyarakat membentuk opininya masing-masing.

Sejak ditetapkan sebagai calon, banyak pengamat bermunculan. Prediksi berseliweran. Tentunya sah saja setiap orang berpendapat atau memprediksi. Sandiaga yang ahli ekonomi, dibantah dengan Ma’ruf Amin yang juga ahli ekonomi syariah. Sandiaga yang langsung mencoba menarik dukungan “emak-emak”, langsung dibalas dari kubu lawan.

Ada hal menarik belakangan ini, setelah ditetapkannya ketua tim pemenangan. Ya, Jokowi menggaet Erick Tohir, yang digadang-gadang mampu memperkuat perolehan suara milenial. Kaum milenial, suaranya semakin diperebutkan. Bagaimana tidak, persentasenya cukup tinggi dalam daftar pemilih. Potensi besar yang tidak bisa dianggap sepele.

Namun demikian, ada sisi lain pemilih yang potensi suaranya juga besar. Pemilih dari golongan “sepuh” atau pemilih lansia. Karakteristik kedua golongan ini tentunya berbeda. Biarlah tim pemenangan yang menentukan strategi apa yang akan digunakan. Namun penting disadari, pemilu tak sekadar meraup suara. Yang penting adalah, apa yang akan dilakukan setelah itu. Setelah terpilih, apa yang akan dilakukan.

Ada fenomena kependudukan yang perlu mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah, yaitu pertumbuhan penduduk lanjut usia (lansia). Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Susana Yembise pernah menyampaikan perhatian kepada lanjut usia (Lansia) selain kepada perempuan, anak dan penyandang disabilitas merupakan salah satu indikator negara maju. Di berbagai wilayah hari lansia diperingati setiap tahunnya. Berbagai upaya dan program dijalankan, agar kondisi lansia tidak semakin memburuk.

Kondisi fisik, psikis, sosial, dan ekonomi lansia yang semakin menurun seringkali diartikan negatif dan dianggap sebagai beban dalam masyarakat. Padahal jika dilihat dari sisi pengalaman, pengetahuan, keahlian dan kearifan,  penduduk lansia memiliki nilai lebih. Mereka masih bisa berkontribusi dalam pembangunan dan bisa dijadikan sebagai pembimbing bagi generasi muda.

Saat ini pemerintah sedang berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan lansia. Salah satu bentuk kepedulian pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam meningkatkan kesejahteraan para lansia yaitu dengan membentuk program kawasan ramah lansia. Kawasan ramah lansia ini merupakan upaya untuk memberikan perlindungan dan pemenuhan hak-hak lansia. Untuk mewujudkan program tersebut pemerintah Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS).

Kerja sama tersebut ingin mengkaji lebih jauh lagi pembentukan kawasan ramah Lansia yang dinilai mampu menjadikan warga Lansia Sejahtera, Mandiri, dan Bermartabat (SMB).

Penduduk lansia dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia pada Bab 1 Pasal 1 Ayat 2, adalah seseorang yang telah mencapai usia 60 tahun ke atas. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hasil Proyeksi Penduduk Tahun 2010-2035, jumlah penduduk lansia di Jawa Barat pada tahun 2017 sebanyak 4,16 juta jiwa. Pada tahun 2021 jumlah penduduk lansia di Jawa Barat diperkirakan sebanyak 5,07 juta jiwa atau sebesar 10,04 persen dari penduduk total Jawa Barat. Kondisi ini menunjukan bahwa Jawa Barat sudah memasuki ageing population.

Peningkatan populasi lansia menunjukkan bahwa Angka Harapan Hidup lansia juga meningkat. Peningkatan ini di satu sisi merupakan keberhasilan pemerintah di bidang kesehatan, sementara di sisi lain akan meningkatkan rasio ketergantungan lansia (old age ratio dependency). Tingginya angka rasio ketergantungan lansia akan berpengaruh terhadap tingginya beban ekonomi yang ditanggung oleh penduduk usia produktif jika lansia tidak mendapatkan layanan kesejahteraan dengan baik.

Di Jawa Barat hampir separuh penduduk lansia masih potensial, hal ini ditunjukan dengan banyaknya penduduk lansia yang bekerja sebesar 43,41 persen. Mereka tergolong sebagai lansia produktif karena pada usia tersebut masih tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup maupun aktualisasi dirinya.

Perhatian pemerintah terhadap keberadaan lanjut usia cukup besar, yaitu dengan ditetapkannya tanggal 29 Mei sebagai Hari Lanjut Usia. Kemudian diterbitkannya Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia sebagai landasan hukum keberadaan lansia. Bahkan di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 pemerintah menyatakan dalam bidang kesejahteraan sosial, sasaran yang ingin di capai adalah meningkatnya akses dan kualitas hidup lansia.

Besarnya potensi lansia di Jawa Barat yang besar tentu menjadi tantangan. Perlu upaya khusus bagaimana membangun lansia agar lebih sejahtera, sehat, dan berbahagia. Bagaimanapun ini menjadi kewajiban kita bersama. Seiring semakin meningkatnya jumlah lansia dari waktu ke waktu maka hal-hal yang berkaitan dengan perlindungan terhadap kesejahteraan lansia harus disiapkan dari sekarang.

Permasalahan lansia menjadi tanggung jawab bersama, baik pemerintah, lembaga masyarakat, maupun kita selaku masyarakat. Hal ini penting dilakukan untuk mengurangi dampak yang dapat ditimbulkan dari meningkatnya jumlah penduduk lansia. Di samping imbas dari peningkatan rasio ketergantungan lansia terhadap usia produktif. Kita semua akan menjadi tua. Mari kita bangun lansia yang aktif dan produktif. Tidak ada lagi anggapan bahwa lansia hanya sebagai beban pembangunan, tapi jadikan lansia sebagai penyangga pembangunan. Perlu kerja sama dan partisipasi. Milenial dan lansia berkolaborasi, saling membangun.

Partinah, SAP
Statistisi di BPS Provinsi Jawa Barat

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar